Cari Nafkah…
Jum’at malam dengan berbebek-ria pergi ke rumah bang John untuk ambil tas berisi baju dan sepatu yang dititipin sepulang dari Bandung minggu lalu. Bebek hitam berhenti di prapatan Slipi karena lampu lalulintas bernyala merah. Motor berhenti di sebelah mikrolet jurusan Tn Abang yang berpenumpang cuma tiga orang di kabin belakang. Ngga lama seorang bocah kecil berpakaian dekil berumur sekitar 4-5 tahun naik ke atas mikrolet itu, dengan lincah memberikan selembar kertas lusuh ke setiap penumpang, si bocah langsung bernyanyi alakadarnya dengan diiringi kecrekan dari tutup botol minuman..ngga jelas tulisan apa yang ada di kertas yang dibagikan dan juga nyanyian apa dilantunkan si bocah…cuma berlangsung sekitar dua menit..si bocah mangambil kertas yang tadi dibagikan dan juga membalikkan telapak tangan kanannya untuk meminta receh dari penumpang …sayang cuma satu orang yang memberikan honor nyanyi si bocah…dari raut wajah tiga penumpang yg kelihatannya baru pulang kerja tersirat keprihatinan kepada si bocah… kecil-kecil kok sudah ngamen…kemana bapak ibunya ya ? kok tega sih nyuruh anaknya ngamen ..malem2 lagi..ngga kasihan apa..mungkin pertanyaan2 semacam itu yang tersirat di kepala mereka…Setelah mengantongi receh, si bocah turun untuk mencari mikrolet yang lain…untuk membagi kertas lusuhnya dan menyanyi alakadarnya…lagi…
Di sisi lain di sebuah harian Ibukota minggu lalu terpampang gambar Riska Amalia,seorang siswi sebuah SD di daerah Jakarta Pusat yang berjualan koran di perpempatan lampu merah di daerah Menteng dengan masih mengenakan seragam sekolahnya…dampaknya adalah keesokan harinya Riska tidak berani pergi ke sekolah karena sepertinya dia mendapat intimidasi dari pihak sekolah karena “Eks-Kul” nya dianggap merusak nama baik dunia pendidikan…merusak ? mencari nafkah kok merusak nama baik…Riska mencari nafkah dengan alasan yang jelas…bapaknya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu..sedang ibunya hanya seorang pedagang kecil..yang (maaf) mungkin penghasilannya hanya cukup untuk makan dan ongkos hari ini saja…tadi pagi kebetulan Riska diwawancara oleh sebuah stasiun Tv…sambil menangis Risaka berkata …” Kalo saya ngga jualan koran…saya mau makan apa……” ucapnya lirih berkali-kali…sedih..
Begitu berat beban yang harus dipikul oleh “orang Kecil” yang hidup di Indonesia khususnya di kota besar seperti Jakarta, setiap anggota keluarga mulai dari bapak,ibu sampai anak2nya harus bisa mencari nafkah, paling tidak menafkahi dirinya sendiri ..bahkan bayi yang masih dalam hitungan bulan pun harus sudah terbiasa mencari nafkah dengan digendong ke sana kemari siang maupun malam oleh ibunya..atau disewakan ke orang lain untuk menambah iba…
masih banyak anak-anak indonesia yang tidak bisa menikmati masa kecilnya dengan baik..boro-boro bisa masuk ke mall, main odong-odong yang cuma bayar 500 atau seribu perak saja mungkin mereka cuma bisa melihat…
Keharuan semacam ini bukan hal yang aneh di Jakarta..hampir setiap saat di angkutan dan tempat2 umum bakalan kita temui anak-anak yang harus cari nafkah membantu keuangan keluarga mereka..dengan berbagai alasan dan latar belakang yg intinya adalah ekonomi…mereka tetap harus cari nafkah…kadang kita mungkin kesal dengan keberadaan mereka…tapi saya yakin mungkin lebih sering kasihan demi melihat mereka…
Tanggung jawab siapa ?
Maret 26, 2007 pada 1:15 pm
kok ga ada fotonya
Maret 26, 2007 pada 4:16 pm
ah mas heru ini bicara masalah sosial, tanggung jawab kita semua donk, minimal ngasih receh kalo ketemu mereka
Maret 26, 2007 pada 6:35 pm
kapan2 main ke rumahnya deh, jangan kaget kalau mereka punya dvd player di petak 2×2 di tengah kampung kumuh. hehe..
*gak semua gitu sih*
Maret 28, 2007 pada 8:31 am
ayo foto ontel ikut pidio klip sleng segera aplut
Oktober 22, 2009 pada 4:55 pm
hy slank gue slanker abiz…. pas lo maen di gasibu bandung lo mantep buanget………..